Iklan

CHAPTER 3 NECROMANCER


CHAPTER 3
TITLE :  LOST PAST
KARYA  : NANA ANISA

"Si…Siapa kau sebenarnya? Kau…ti..tidak mungkin jane teman ku..! Si.. si apa kau?!"

Ketakutan ku mulai menjadi. Aku mengusap kedua mata ku berharap ini hanyalah mimpi buruk. Tetapi yang terjadi sekarang bukanlah mimpi, namun kenyataan yang harus kuhadapi. Aku tak tau harus melakukan apa saat ini, tubuhku kaku. Dan aku hanya bisa ketakutan setengah mati dengan sosok mengerikan di depan ku.

"Kau tidak perlu takut padaku erren..aku jane teman mu.." jelasnya.

"Ti..tidak! kau bukan jane! Jane yang ku kenal hanya manusia biasa.!" Jawab ku tak percaya.

"Jika ku tunjukan sesuatu padamu, apa kau mau percaya padaku..?"

"I..itu…" jawabku ragu-ragu sambil melihat ke arah berbeda.

Dengan perlahan Jane melangkah mendekati ku yang masih dalam posisi keadaan terduduk di tanah karena lemas dan ketakutan. Melihat jane yang berjalan mendekati ku, aku semakin di buat  ketakutan dan mencoba berdiri meninggalkan tempat itu. Namun gerakan ku tidak jauh lebih cepat di bandingkan mahluk di depan ku tersebut. Wushh… jane mendadak menghilang bagai kilat entah kemana. Aku terkejut dan mulai berputar melihat ke sekelilingku untuk memastikan mahluk itu sudah pergi atau tidak.
"mahluk itu sudah pergi..? Ya, Aku akan pergi dari tempat ini sekarang juga!" Ujar batin ku saat ini.

Tak butuh waktu lama, aku memutuskan untuk meninggalkan parona. Namun tanpa di duga-duga ketika hendak berbalik, jane yang tengah berubah menjadi mahluk mengerikan itu sudah berada tepat di belakang ku. "Huwaahh!!"

Karena terkejut, aku terjatuh kembali ke tanah. Kini jarak ku hanya beberapa centi saja dan aku bisa melihat jelas perubahan jane yang tak masuk akal itu. Aku bisa melihat jelas tubuhnya dengan balutan busana aneh, di tambah bola mata dan telinga yang tak lazim dari seorang manusia pada umumnya. Dan juga Rambut yang tergerai panjang bewarna merah serta tanduk besar yang menempel di kanan dan kiri kepala jane.
"Oh tuhan, mahluk apa yang sedang kuhadapi saat ini..benarkah dia jane teman ku? Atau monster yang sengaja menyamar menjadi jane untuk membunuh ku? " ujar batin ku hanya bisa pasrah.

"Ini adalah wujudku yang sebenarnya erren.." ucapnya sambil memandang diriku. Aku sadar jika tatapan nya tak jauh berbeda dengan jane biasanya. Walaupun wujudnya berubah namun dia tetap jane yang sering menghabiskan waktu bersama ku. Entah kenapa aku sulit menerima kenyataan bahwa jane bukan manusia. Aku berusaha meyakinkan hatiku. Tapi rasa takut ku mengalahkan keberanian ku. Jika dia memang jane teman ku, dia tidak akan melukai ku. Tetapi jika dia monster sunguhan mungkin aku sudah mati sejak 10 menit yang lalu. Aku terus berpikir dengan dua pertanyaan itu di kepala ku.

"Mungkin akan sulit untuk kau menerima kenyataan ini erren.. kalau aku bukanlah manusia seperti dirimu.. tetapi aku tau semua yang pernah kita lakukan semasa kecil sampai sekarang... Apa kau masih ingat, saat kau menolongku di sumur itu? Aku sangat takut sekali karena ku pikir aku akan jatuh. Tapi… kau tanpa rasa takut, memegang tangan ku dan membantuku keluar dari sumur itu. Dan… Aku juga masih menyimpan batu-batu yang kita kumpulkan saat liburan musim semi. Aku mengingat semua nya kan?" Jelasnya sambil tersenyum seperti jane biasanya.

Mendengarnya menceritakan apa yang menjadi kenangan nya, Mungkin benar, jika dia memang jane temanku yang ku kenal. Namun tetap saja, aku masih di hinggapi rasa takut ketika berhadapan dengan nya saat ini. Tapi..jika tak ku lawan rasa takut ku, apakah selama nya akan seperti ini? Tentu tidak. Aku berusaha meyakinkan hatiku kembali.

"Jadi… jane… mahluk apa kau sebenarnya?" Tanyaku berusaha untuk tidak takut.

" yang jelas aku bukan manusia, tapi aku bisa merubah diriku menjadi manusia sesuka hati. Bergaul dengan para manusia, hidup dengan mereka, bahkan makan dan minum seperti manusia. Necromancer.. itu lah kami..aku seorang necromancer erren..bangsa kami di ciptakan dari kumpulan energi kegelapan dan cahaya. Kelima elemen juga ada di dalam tubuh kami. Seperti kalian para manusia, kami juga hidup untuk bertahan hidup. Tapi dunia ini sudah berubah banyak erren.., banyak Necromancer yang salah jalan dan menjadi liar. Mereka yang liar, mencari dan menghisap energi manusia yang hidup sampai manusia itu mati untuk memberikan nya kekuatan. Sedangkan Necromancer yang terpilih, menjadi prajurit 4 penjuru mata angin. Tugas mereka adalah mengantar dan menjemput jiwa-jiwa yang tersesat di bumi. Menyegel mereka dan mengantarkan nya ke alam pengadilan. Dan aku adalah necromancer dari timur erren... Aku di tugaskan grim reaper timur untuk melindungimu.."

jelasnya panjang membuat ku tak habis pikir jika mahluk yang bernama  necromancer juga ada di bumi ini. Namun yang semakin membuat ku terkejut adalah jane mengatakan bahwa kehadiran nya semata mata hanya untuk melindungi ku. Aku semakin bingung dan  tidak mengerti dengan ucapan terakhir jane.

"Melindungiku? Apa maksudmu? Melindungi ku dari apa?"

"Baiklah akan kuceritakan, kenapa aku harus melindungi mu.. tapi pertama tama, kau harus terima kenyataan pahit yang akan kau dengar dari mulut ku sendiri.."

"Katakan saja jika aku memang harus tau.." jawab ku siap mendengar kenyataan yang di maksud jane.

"Dahulu ada sebuah legenda di antara bangsa kami, jika seorang necromancer memiliki anak dari seorang manusia, maka  anak itu adalah kutukan atau aib untuk bangsa kami karena mereka memiliki darah campuran yang akan membahayakan bangsa kami. Jadi.. para grim reaper harus membunuh mereka dan mengembalikan jiwa mereka agar keseimbangan dunia ini tetap seimbang. Namun, 100 tahun yang lalu ada seorang necromancer utara yang terkenal akan kekuatannya sehingga necromancer lain tunduk padanya. Tapi, suatu hari necromancer utara itu membuat kesalahan besar dengan mencintai wanita dari dunia manusia. Mereka telah memiliki anak namun anak yang di maksud sampai sekarang menghilang dan tidak di temukan. Aku mendengar dari necromancer lain bahwa anak mereka di buang ke dunia manusia. Dan sampai sekarang grim reaper utara mencari anak itu untuk membunuhnya. dan…. anak yang di maksud di cerita ini adalah…… kau……
"
"Aku?! Apa maksudmu?! Kau tau aku adalah manusia biasa, mana mungkin anak yang kau maksud adalah aku..?!" Balas ku terkejut.

"Ya.. anak itu adalah kau erren..itulah yang Biarawan Andres  sembunyikan selama ini darimu. Kenyataan bahwa kau bukan dari dunia ini membuat Bapa harus mengemban tanggung jawab besar demi melindungi mu. Baginya kau adalah anak kandungnya sendiri. Walaupun orang tua mu yang sesungguhnya bukan pasangan biarawan dan biarawati itu. Tapi mereka tetap merawat mu seperti putranya sendiri.. aku sedikit lega karena tugas ku menjadi ringan karena Bapa dan istrinya. Tapi, aku sedih karena mereka harus mengorbankan nyawa mereka demi dirimu.. kematian biarawan andres bukan takdir erren. Tapi kematian nya sudah di rencanakan.….maafkan aku erren…. Akulah penyebab ayah mu mati…" jelas jane membuat ku terkejut dan membelalakan mata di akhir kalimat.

Hatiku hancur saat itu juga mendengar jane mengatakan kebenaran atas kematian bapa membuat jiwa ku hilang separuh. Rasanya sakit hingga tak bisa berucap apa-apa. Amarah ku memuncak. Emosi ku mulai menguasai ku. Disusul dengan air mata ku yang kini turun membasahi pipi ku. Aku memukul-mukul pasir dengan tangan ku sendiri. Kini aku menggenggam pasir itu dan mulai melemparlan kesana kemari seperti orang gila. Sakit yang teramat sakit. Dua kali lipat lebih sakit saat aku tau bapa harus tewas karena kecelakaan. Dan kenyataan ini jauh lebih membuatku sakit karena teman ku sendiri yang membunuhnya.

Aku meraung-raung malam itu. Kesedihan ku menjadi sejadinya. Aku berteriak seakan tak ada orang yang mendengar. Memukul-mukul dadaku sendiri seolah tak merasa sakit sama sekali. Jika ini hanyalah mimpi belaka, kumohon bangunkan aku. Aku ingin kehidupan ku kembali seperti dulu lagi. Aku ingin bapa kembali, membuka pintu kamarku sambil tersenyum seperti dulu. Aku ingin kebahagiaan yang selama ini aku dapatkan dari bapa kembali. Tapi, kenyataan bahwa ini bukanlah mimpi semakin membuat ku terluka. Hatiku hancur, dan duniaku hancur seketika. Emosi ku semakin memuncak. Ku pandang dengan tajam jane, kedua tangan ku mulai mengepal. Amarah ku benar-benar pada puncak nya. Ketakutan ku berubah menjadi kemarahan yang meredam ketakutan ku saat itu. beriringan dengan air mata ku yang mengalir sambil menatap jane dengan penuh kebencian.

Aku mendekati jane dengan langkah cepat, aku mencekik lehernya dengan kedua tangan ku, seolah tak sadar bahwa ia adalah teman ku. Rasa amarah, dan tak tega menghinggapi ku. Aku memegang keras leher kecil milik jane. Terdengar erangan bahwa dia menahan sedikit rasa sakit dari cengkraman tangan ku. Apakah aku harus membunuh teman ku saat ini juga? Atau aku memaafkannya setelah dia membunuh bapa? Saat ini aku tidak perduli jane mahluk apa, wanita atau laki-laki jika ini adalah pilihan terbaik, aku akan puas jika aku harus membunuhnya sekarang juga.

"Argg… bunuh aku erren…bu...bunuhlah aku jika itu membuat mu bahagia... a…aku tidak akan mencegahmu melakukan nya.. " ucapnya yang menahan sakit cengkraman tangan ku.

"Jika itu yang kau minta, dengan senang hati aku akan membunuh mu b******k!!"

"Be..benar erren… bunuhlah aku….ambil pedang ku... dan bu..bunuh aku sekarang juga.."

Aku menoleh ke arah kebelakang punggung jane. Terlihat pedang khas dengan hiasan permata serta warnanya yang berwarna perak menyala. Aku mencabut pedang itu dengan amarah dari punggung jane. Aku melepas cengkraman tangan ku yang satunya lagi dan mengarah kan pedang itu beberapa meter ke jantung nya. Tangan ku mulai bergetar memegang pedang itu, amarah ku naik turun. Hatiku tak karuan antara sedih, marah, dan tidak tega.
"Jane? Kenapa? Kenapa kau membunuh bapa?! Kenapa?!!" Batin ku meraung-raung  dengan pertanyaan yang sama.

"Bunuh aku erren.. aku si pembunuh itu.. jadi.. bunuhlah aku… " sekali lagi jane meminta ku untuk membunuh nya.

Tangan ku semakin bergetar hebat. Emosi ku semakin memuncak. anehnya tetap saja aku tidak bisa membunuh jane. Hati nurani ku terus mencegah ku untuk melakukan itu. Sekali lagi aku meyakinkan hatiku. Aku berusaha meredam amarah ku. Tapi tidak bisa. setiap memandang wajah jane, itu semakin membuat ku marah dan terluka. Namun pada akhirnya tetap saja aku tidak bisa melakukan nya.

"Ada apa? Apa kau kasihan padaku erren..? Apa kau kasihan dengan si pembunuh ini?"

Kurasa jane berusaha mencing amarah ku kembali, tetapi aku berusaha menahan amarah ku agar tidak lebih jauh menggila karenanya. Pedang itu masih terarah ke arah jantungnya. Sementara aku hanya bisa diam dan menatap tajam kearah dirinya tanpa melakukan perlawanan.

"Kenapa kau diam erren? Bukankah kau tadi ingin membunuh ku?" Tanyanya sekali lagi mulai memancing emosiku kembali.

"Tutup mulut mu jane!! Aku bukan pencundang!! Aku tidak akan mengotori tangan ku hanya karena mahluk seperti mu.. ku pikir kita adalah teman.. tapi setelah semua yang terjadi, aku menyesali semuanya. Menyesali bahwa aku pernah menolong mu di sumur itu, dan menyesali bahwa kita pernah berteman.. Pergilah jane.. jangan muncul di hadapan ku lagi.. dan juga jangan pernah muncul di kota ini lagi...." ucapku berusaha mengontrol  emosiku.

Ku turunkan pedang itu. Tersadar bahwa jane mendadak diam setelah apa yang barusan aku katakan. Mungkinkah perkataan ku barusan sangat keterlaluan? Tapi sepertinya tidak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan kepada bapa. Jika aku membunuh nya sekarang pun tidak ada gunanya bagiku. Itu sama saja aku tidak ada bedanya dengan jane. Membunuh tanpa rasa bersalah dan kasihan. Aku tidak mau hidup seperti itu.

"Seperti itu ya… jika kau takut untuk melakukan nya..makan aku yang akan melakukan nya…" jawab jane setelah beberapa detik terdiam.

Tiba-tiba tangan jane bergerak begitu cepat memegang ujung pedang nya, sehingga membuat kedua tangannya tergores mengeluarkan darah. Aku terkejut dengan tindakan jane yang nekat. Aku  menahan pedang itu karena jane mulai memaksa ku untuk menusuk nya.

"Apa yang kau lakukan?! " bentak ku.

"Bukan kah jika aku mati semuanya akan berakhir ? Kau bisa membalaskan rasa sakitmu..kau tau apa yang aku lakukan pada biarawan andres ? Aku menusuknya dengan pedang ini…" ucapnya tak merasa bersalah, sambil tersenyum kecil ke arah ku.

"Tutup mulut mu Jane!!!"

CRATSS!!!

Terdengar suara pedang yang di hunus tepat mengarah jantung.

*To be Continue...

0 Response to "CHAPTER 3 NECROMANCER"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel