Iklan

CHAPTER 2 NECROMANCER


CHAPTER 2
TITLE : " THE TRUTH"
KARYA : Nana Anisa

" necromancer…"
Aku mendengar jane mengucakan satu kata yang tidak aku mengerti. Dan tiba-tiba kepala ku terasa pening. Di sekeliling ku seperti bergoyang. Tubuhku lemas dan akhirnya aku limbung hingga jatuh tak sadarkan diri.

"Erren.. erren.. "
Aku sampai di tempat aneh di mana aku sendiri tidak tau ada di mana. Samar samar ku dengar seseorang memanggilku dalam kegelapan. Aku berjalan menyusuri lorong gelap dan lembab. Aku bingung berada di mana saat ini? Apakah ini mimpi atau kenyataan. Namun yang jelas aku harus keluar dari tempat ini.

"Erren…erren.."
Sekali lagi kudengar seseorang memanggilku.
" siapa kau? Keluarlah.." sahut ku dengan lantang.
"Erren kemarilah..aku disini.." jawabnya.
Aku memutuskan untuk memberanikan diri mendekati sumber suara itu. Dengan perlahan ku langkah kan kakiku melihat siapa gerangan sosok di balik suara yang memanggilku terus terusan.

"Anakku….."
Tiba-tiba Aku terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapan ku. Seorang pria tua, Namun masih terlihat gagah dan perkasa. Tapi mengapa tubuhnya penuh luka dan mengapa ia di ikat dengan rantai besar seperti ini? Yang jelas itu membuat ku penasaran dan lagi ia barusan memanggilku dengan sebutan anak ku.

"Siapa kau? Dan apa mau mu padaku?" Ucapku yang penasaran dan ragu-ragu.
"Erren.. apa kau ingat aku..? " tanya nya semakin membuatku penasaran.
"Maaf, aku tidak tau siapa kau.."
"Jadi kau tidak ingat aku..?"
"Ya.. aku tidak pernah mengenal mu sebelumnya.." jawabku jelas.
"Tolong lepaskan belenggu rantai ini dariku.." pintanya.

Ingin rasanya aku melakukan pemintaan nya karena kasihan. Namun setelah aku pikir-pikir jika ku lakukan apakah dia akan membahayakan hidupku atau tidak? Yang jelas aku tidak boleh salah mengambil tindakan.

"Sebelumnya kau memanggil ku dengan sebutan anakku.. apa maksud mu paman?" Tanyaku kembali mencari kebenaran sebelum memutuskan melepaskan rantainya.
"Kau akan tau siapa aku suatu hari nanti erren…sebelum itu terjadi, kau harus singkirkan rantai belenggu ini dan keluarkan aku dari sini.." pintanya sekali lagi.
"Jika ku lakukan, kau tidak akan macam-macam bukan?" Tanya ku kembali berusaha meyakinkan.
"Tidak.." jawabnya singkat.
"Baiklah.."

Kuputuskan melepaskan rantainya sekuat tenaga walaupun aku tidak tau cara melepaskan nya. Kulihat rantai itu terlalu besar, hingga membelit di seluruh kaki dan tangan sosok misterius itu. Aku mulai kewalahan. Dan bodohnya aku,aku baru mengerti ternyata rantai itu memiliki gembok kunci berbentuk pentagram segi lima di belakang nya.
"Sial!.. seperti nya ini akan sulit.." umpat ku dalam hati.

"Gunakan kekuatan mu erren.."
"Apa?" Jawab ku semakin di buat bingung.
"Mendekatlah..satukan tangan mu dan tangan ku.." pintanya padaku.
"Apakah aku bisa mempercayaimu paman?" Jawab ku ragu-ragu.
"Tentu saja.. lakukan lah sekarang.." suruh nya.

Aku mengangguk dan mencoba menyetuh perlahan tangan nya. Ku satukan telapak tangan ku dan telapak tangannya. Tadinya aku pikir ini hanya bualan saja. Namun tiba-tiba seluruh tangan ku mengeras. Rasa panas menyebar ke seluruh tubuhku. Kulihat beberapa retakan kecil di jari-jariku. Cahaya aneh mulai masuk kedalam pori-pori ku. Aku ingin melepaskan nya namun tidak bisa. Rasa sakit yang teramat sakit mulai terasa menjalar di sekujur tubuhku. Entah kenapa tubuhku panas seperti berapi-api. Rasanya aku ingin mengamuk dan melampiaskan amarahku di sekeliling tempat itu. Tapi hati nurani ku mencegah ku.

Mendadak aku terhempas beberapa meter kebelakang. Aku sempat terkejut karena terhempas langsung ke tanah. Tapi anehnya aku tidak merasakan sakit sama sekali. Justru aku merasa ada yang tidak beres padaku. Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Dan juga jauh lebih bergairah dari sebelumnya. Aku bangkit dari posisiku dan mendekati sosok misterius itu kembali.

"Apa yang paman lakukan padaku?"
"Kau akan tau nanti..sekarang kau lepaskan rantai ini, ambil sedikit darah mu, dan buat pentagram lima segi di tanah. Taruh tangan mu di atas nya. Pejamkan matamu, dan Jangan lupa, putar searah jarum jam sebanyak tiga kali.." ucapnya menjelaskan padaku.

Aku tidak tau apa yang di katakan sosok misterius itu berhasil atau tidak, yang jelas aku harus mencobanya. Aku mengikuti semua yang ia katakan. Dan benar saja setelah aku menaruh tangan ku di atas pentagram lima segi itu, tiba-tiba pentagram gambar itu bercahaya seperti hologram seolah oleh aku yang mengendalikan. Aku memejamkan mataku sesaat dan menarik nafas terlebih dahulu lalu memutar nya searah jarum jam sebanyak tiga kali.
"Aku harap ini berhasil.." ucapku percaya, dari dalam hati.

Tiba-tiba Terdengar retakan dari rantai, disusul dengan hancurnya rantai tersebut berkeping keping. Cahaya keunguan muncul dan menyilaukan mata ku hingga tak bisa melihat sosok misterius itu lagi. Hanya cahaya seluet nya saja yang terasa menyentuh kepala ku seolah seperti tak asing.

"Kau berhasil erren... jagalah dirimu baik-baik anakku.."

Ku dengar satu kalimat yang entah kenapa sedikit menyayat hatiku.Tapi pada akhirnya semua itu berakhir. Aku terbangun dari ketidaksadaran ku karena cahaya menyilaukan itu. Aku baru sadar aku terbangun dari tempat tidurku. Aku tidak ingat apa yang terjadi padaku barusan. Yang ku ingat terakhir kali adalah jane yang agresif memeluk ku di pemakaman.
"Ahh jika ku ingat itu, aku merasa malu di perlakukan seperti itu oleh jane.." ujar batin ku.

Kulupakan kejadian itu, dan melakukan kegiatan sehari hari ku di capel. Aku hampir lupa bahwa bapa telah pergi. Jadi aku yang mengurus semua urusan capel ini dan merawatnya. Aku teringat betapa baiknya bapa selama ini padaku. Dan teringat kenangan saat-saat bersama bapa. Dan itu membuat hatiku ku terluka lagi. Jika ku ingat tahun-tahun sebelumnya aku dan bapa selalu mengerjakan urusan capel ini bersama-sama. Entah kenapa rasanya berbeda setelah bapa pergi. Ya benar, mulai saat ini aku harus mengerjakannya sendirian tanpa bapa. Tapi apakah aku pandai membimbing jemaat kristen setiap minggunya seperti bapa? Bahkan akupun buka biarawan.

Keesokan harinya kegiatan ku di mulai mengecat beberapa dinding yang pudar. Aku berpikir capel ini harus segera di perbarui agar semakin banyak jemaat yang tertarik beribadah disini. Mengingat capel yang di perempatan jalan jauh lebih besar dan indah dibandingkan capel kami, terkadang aku berfikir capel ini mungkin sudah tidak menarik lagi di mata warga kota.
"Ya sudahlah.. setidaknya aku dan bapa sudah menjaga capel ini bertahun bertahun." Ucapku dalam hati.

"Hey erren..!"
Aku di kagetkan dengan suara seseorang yang tak asing di telinga ku.
" ah kau tom, ada apa?"
Tanyaku. Tom adalah anak dari adik ayahku. Bisa di katakan ia adalah sepupu ku.
" aku hanya ingin jalan-jalan saja. Tumben sekali kau mengecat dinding ini?"
"Ya, aku melakukan nya karena dinding ini terlihat usang..di mana merry?"
Merry adalah adik perempuan Tom.
" dia ada di dalam mobil. Seperti biasa dia tidak mau keluar dan menemui mu.."
" ah aku mengerti.." jawab ku agak sedikit sedih.
Sejak dulu merry selalu menjauhi ku. Bahkan ketika ada bapa sekalipun. Entah apa yang membuatnya menjaga jarak dengan ku. Tatapan nya selalu dingin dan tajam kepadaku. Tapi aku mengerti mengapa ia seperti itu. Sebab aku hanyalah sepupu yang miskin dan lusuh di matanya. Tidak seperti keluarga bapa yang lain yang memang berasal dari keluarga kaya. Kurasa ayahku tidak memandang materi saat menikahi ibuku. Karena bapa sangat mencintai nya. Aku lupa bahwa sudah 30 tahun ibuku meninggal. Dan aku lupa mengunjungi nya bulan ini.
"Ahh ibu pasti bahagia karena sudah bertemu ayah kembali di sana..seharusnya aku juga bahagia.." ujar batin ku.

"Erren, aku membawakan buah apel untuk mu.. ku pikir kau harus makan buah buahan agar stamina mu baik?"
Ahh, aku lupa jika Tom ada disini. Ujar batin ku kembali.
"Terima kasih tom, maaf jika merepotkan mu.. apakah tidak apa-apa dengan merry, jika kau memberikan buah buahan ini untukku?" Tanyaku takut merry marah kepada Tom.
"Sudahlah tidak usah pikirkan adikku.. dia memang seperti itu. Terimalah ini..ohya, minggu depan orang tua kami akan pulang dari australia. Ku harap kau datang, dan mengunjungi kami.."
Mendengar ucapan Tom hatiku sedikit bimbang. Bukankah keluarga bapa selama ini dingin kepada kami? Apa yang akan mereka pikirkan jika aku tiba-tiba datang mengunjungi mereka?
"Mau kah kau datang minggu depan erren.." tanya nya sekali lagi.
Aku tersadar dari lamunan sesaat ku saat di tanya kembali oleh Tom.
" ahh.. jika aku tidak ada urusan aku akan datang.." jawab ku.

Tom memutuskan pamit dan pergi bersama adiknya yang sinis padaku. Kulihat kaca mobil yang setengah terbuka dan merry yang menatap tajam ke arah ku. Aku berusaha membuang muka dan menolak tatapan itu. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak apalagi dengan sekantung buah buahan yang berada di tangan ku.
"Sudahlah erren.. kau tidak perlu memikirkan adik tom yang membenci mu.. sekarang yang harus kau lakukan adalah menyelesaikan pekerjaan ini.." ucapku meyakinkan diriku sendiri.

Seperti biasa setiap malamnya, aku membaca beberapa buku. Kondisi ku agak sedikit kurang enak beberapa hari ini. Kepala ku sering pusing. Dan akupun malas melangkahkan kaki keluar. Mendadak aku teringat kejadian jane di pemakaman. Sekali lagi aku merasa malu. Untuk apa aku memikirkan gadis agresif itu malam-malam begini. Dan lagi beberapa hari ini aku tidak melihat jane lewat depan capel atau bertemu dengannya secara langsung. Aku beranggapan mungkin dia sedang sibuk atau apa. Mungkin menyebalkan jika aku mengingat kejadian waktu itu, tapi jane tetap teman ku.

Aku sadar aku lupa mencarge ponsel ku beberapa minggu ini. Tentu saja aku lupa, karena aku jarang memakai ponsel ku untuk hal lain selain menelfon seseorang. Ah bodohnya aku..

Tak butuh beberapa lama aku menyalakan ponsel ku. Terlihat beberapa pesan masuk yang belum kubuka. Ternyata pesan masuk dari jane 24 jam yang lalu. Berarti ini pesan kemarin. Ah pantas saja aku memikirkan nya. Lalu Ku lihat isi pesan nya.

"Aku minta maaf atas kejadian di pemakaman, maaf jika aku memeluk mu seperti itu.. aku hanya tidak ingin kau semakin bersedih atas kepergian ayahmu.. jika kau ada waktu, temui aku besok jam 10:00 malam di pantai parona.. "

Ku menoleh ke arah jam dinding kamar ku. Ah baru jam 9 rupanya. Ingin rasanya aku menolak dan tidak ingin datang. Tapi karena jane sudah meminta maaf, maka aku tetap memutuskan pergi. Sedikit aneh memang jane mengajaku bertemu di pantai parona malam-malam begini. Bahkan tempat itu sangat dingin ketika malam. Aku membuang seluruh pikiran negatif ku kali ini.

Aku bersiap siap pergi, seperti biasa aku tak lupa memakai jacket hitam kesayangan ku dan kaos bewarna putih polos. Aku melangkahkan kaki keluar. Dan menunggu beberapa bus malam di terminal. Terlihat keadaan jalan yang masih ramai oleh hiruk pikuk kendaraan.
Ku lihat jam tangan ku menunjukkan pukul setengah sepuluh. Masih ada 30 menit lagi untuk sampai ke parona.

Bus pun akhirnya sampai dan memberhentikan ku tepat di pintu masuk pantai parona. Aku bersyukur tidak ada security atau polisi pantai yang berjaga malam ini. Karena jika malam begini masyarakat biasanya di larang pergi kesana karena ombaknya yang pasang.

Ku langkah kan kaki ku menunggu jane di pinggiran pantai. Aku segera mengambil ponsel ku dari dalam saku celana.

"aku menunggumu di parona.. cepatlah kesini.. aku kedinginan.." bunyi pesan ku.

Sambil menunggu jane aku menatap langit-langit malam yang berbintang. Aku tak menyadari selama ini jika langit malam di parona sangat indah.
"Ibu ayah.. apakah kalian melihat ku dari sana? Aku merindukan kalian.." lirih ku dalam hati.
Jika orang tua ku ada disini. Aku akan melakukan sesuatu untuk membahagiakan mereka setiap hari. Membantu bapa mengurus jemaat dan membantu ibu membersihkan capel. Namun takdir berkata lain. Aku memang harus melakukan semuanya sendiri sekarang. Berjuang sendirian di kota kecil ini. Bagaimana caranya aku harus tetap hidup dan berjuang di dunia yang keras di luar sana. Carolina selatan adalah satu-satunya tempat ku bertahan. Bahkan aku masih belum berani menjajakan kakiku melewati batas kota ini.

"Erren..!" Sebuah suara mengejutkan ku dari belakang. Ternyata jane sudah tiba.
"Maaf jika kau menunggu lama.. ada yang ingin aku katakan padamu erren.." ucapnya mengawali perbincangan.
" apa yang ingin kau katakan jane..?" Tanyaku penasaran.
" jika ku beri tahu, apakah kau berjanji tidak akan takut padaku.."
"Maksudmu?"
"Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu.. lihat ini baik-baik.."

Perkataan jane semakin membuat ku bingung. Dan lagi ia memustuskan mundur 5 langkah dari hadapan ku. Aku tidak mengerti apa yang sedang coba ia lakukan. Jane melakukan gerakan aneh di depan ku. Ia membuat bentuk aneh dan simbol di udara dengan tangan kanannya. Tunggu dulu, jika ku perhatikan aku pernah melihat simbol itu tapi di mana? Yang ku maksud disini adalah simbol pentagram lima segi yang di buat jane.

Tiba-tiba aku di buat terkejut karena Simbol yang di buat jane mendadak bersinar bewarna ke merah mudaan..aku membelalakan mata fokus menatap jane dan hampir tidak berkedip. tubuh jane disinari oleh sinar dan simbol yang melayang di udara itu. Karena takut, aku hampir memutuskan lari dari tempat itu karena menyaksikan kejadian tak biasa dari jane. Mulut ku kaku dan kakiku mulai terasa berat. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh ku. Aku mulai merasa takut. Kulihat jane yang berubah dengan pakaian aneh di hadapan ku. Rambut jane juga berubah kemerahan. Aku melihat sebuah benda aneh yang menempel di kepalanya. Jika ku perhatikan itu adalah sebuah tanduk. Aku sangat terkejut dan ketakutan hingga membuat ku tersungkur lemas ke tanah.

" si.. siapa kau sebenarnya.."

*To be continue…

0 Response to "CHAPTER 2 NECROMANCER"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel