Iklan

CHAPTER 1 NECROMANCER


CHAPTER 1
TITLE    :  WHO AM I ?
KARYA  :   Nana Anisa

"Erren.. erren…erren…"
"Huwaaahh…!! Aku terkejut dengan suara yang terus menghantuiku setiap malam. Aku tidak tau suara siapa itu. Dan aku tidak tau mengapa aku selalu bermimpi buruk.

"Erren..!" Sebuah suara mengagetkan ku dari balik pintu yang di buka yang ternyata seorang pendeta atau 6ku perjelas saja yaitu ayah ku.
" bapa! Aku takut… "
" erren.. apa kau bermimpi buruk lagi?" Tanyanya padaku khawatir sambil memegang pundak ku.
" ya bapa.. aku melihat seseorang dalam mimpi ku.." jawabku sambil tersengal sengal.
" siapa?.." tanyanya kembali.
" seorang wanita dan pria.. mereka di penuhi darah..aku sangat takut bapa.." lirih ku sambil memandang takut ke arah ayah ku.
" itu hanya bunga mimpi erren.. apa kau lupa berdoa kepada tuhan sebelum tidur?.."
" aku..….jarang berdoa.…" jawab ku pelan, takut membuat ayahku marah.
" baiklah, lain kali kau harus berdoa sebelum tidur. Bapa akan pergi membeli beberapa lilin..tolong kau bersihkan daun-daun kering di depan capel.." pinta ayahku, yang pada saat itu hendak pergi. Tak biasanya ayahku pergi sepagi ini untuk membeli beberapa lilin. Dan aku berusaha tidak berpikir macam-macam.

Langit pagi yang biasanya cerah itu terlihat kurang bersahabat. Terlihat Awan berwana abu abu bercampur putih menutupi seluruh perkotaan. Menandakan akan segera hujan. Aku membersihkan beberapa daun kering yang berguguran karena tersapu angin. Terlihat beberapa orang yang lalu lalang di depan capel. Dan terkadang mereka selalu menyapa dan tersenyum padaku setiap kali melihat ku.
" hai erren.. sedang bersih-bersih rupanya.
?"
" hai jane! Iya.. bapa sedang tidak ada. Jadi aku membersihkan nya.."
"Kau sangat rajin erren..semoga harimu baik.."
Ya, seperti itulah keseharian ku.. tidak ada hal lain yang kukerjakan selain membersihkan capel, mengelap kaca, dan memastikan lilin-lilin bejejer dengan rapi di sudut ruangan.

Hujan mulai turun setetes demi setetes. Sementara ayah ku juga belum pulang dari toko peralatan. Terlihat beberapa air yang mulai merembes masuk ke dalam capel. Maklum saja, capel kami terbilang sangat kecil dan sederhana bahkan tidak ada dana sedikit pun untuk membantu memperbaiki atap-atap nya yang sudah lapuk. Secepat mungkin aku mengambil ember kecil untuk menampung air yang mulai jatuh membasahi lantai.
"Ayolah erren.. kau tidak harus melakukan ini setiap hari juga.." keluh ku dalam hati.

Terdengar suara pintu capel yang di ketuk dengan keras sebanyak tiga kali.
"Iya..sebentar.." aku menuju sumber suara dengan terburu buru. dan membuka pintu dengan perlahan. Terlihat seorang pria tua memakai payung hitam berdiri di hadapan ku dengan raut wajah sedih.

"Apa kau yang bernama Erren Xander..?" Tanya nya padaku dengan tidak sabar.
" ya, itu aku.. kakek siapa..?"
"Apa kau anak pemilik capel ini?" Tanya nya kembali semakin membuat ku penasaran.
" ayah mu mengalami kecelakaan.. sebuah mobil hitam menabrak nya dan kabur begitu saja. Kami sempat membawanya ke rumah sakit. Namun nyawanya tidak tertolong.."

Seketika hatiku seperti di hantam batu bertubi tubi. Duniaku menjadi gelap seketika. Mata ku mulai basah. Dan air mata ku mulai mengalir deras membasahi pipi.

"Tidak mungkin!.. baru saja pagi tadi bapa tersenyum pada ku dan memegang pundak ku..bapa tidak mungkin meninggalkan ku secepat ini..!" Jerit ku sambil memegang kerah baju kakek tua itu.
"Aku tau perasaan mu nak.. tapi ini semua sudah takdir tuhan.. kau harus segera ke rumah sakit, dan mengkremasi tubuh ayah mu.."
" TIDAK! ini semua kebohongan.. ayah ku tidak mungkin pergi secepat ini! Apanya yang takdir?! Apakah tuhan sejahat ini padak ku?!" Jawab ku tak terima masih sedih tak percaya.
"Hentikan itu NAK..! kau tidak boleh berbicara seperti itu.. tuhan bisa mengutuk mu..!"
"Kalau tuhan ingin mengutuk ku, maka lakukan lah sekarang..!!" Jawab ku dengan suara lantang dan amarah serta kesedihan yang sudah menguasai ku.

Tiba-tiba kilatan petir menyambar pohon tepat di depan capel kami. Pohon itu seketika terbakar dan terbelah menjadi dua. Kakek itu seketika ketakutan dan melepaskan cengkraman tangan ku di kerahnya dan berusaha lari meninggalkan capel. Aku yang masih terkejut dan ketakutan, hanya bisa terduduk dan bersender di pintu sambil meratapi nasib ku. Hatiku benar-benar hancur. Dunia ku seketika berubah menjadi gelap. Aku murung sepanjang hari. Tidak makan tidak tidur. Aku menunggu ayah ku pulang berharap ia datang sambil tersenyum dan membawakan aku beberapa buku untuk di baca. Tapi nyatanya itu tidak akan terjadi, hatiku masih menjerit tidak terima atas kepergian ayahku. Ingin rasanya ku akhiri hidup ku sekarang juga. Namun aku tau, bapa tidak akan suka aku melakukan itu.

Aku masuk ke kamar ayah ku, dan melihat beberapa album foto. Kulihat diriku yang masih berumur 3 tahun. Terlihat raut kebahagiaan ayahku saat menggendong ku. Aku perhatikan baik-baik raut wajah ayah ku. Dan seketika air mata itu mulai membasahi pipi ku kembali.

Hari pemakaman tiba, aku melihat peti yang membawa mayat ayahku di kuburkan dan di pendam beberapa merer ke dalam tanah. Suara kesedihan orang-orang yang dekat dengan ayahku mulai terdengar. Terkecuali aku. Air mata ku sudah mengering sejak 2 hari yang lalu. Rasanya hanya hatiku yang meraung raung saat ini. Beberapa tangan memegang pundak ku, sambil berkata "kau harus kuat erren.." tapi tetap saja aku tidak kuat. Rasanya aku ingin pergi jauh-jauh dari sini dan tidak akan kembali.

"Erren.. mau sampai kapan kau disini? " suara wanita membuyarkan lamunan ku seketika. Tidak terasa hampir setengah jam aku berdiri di depan makam ayah ku.
"pergilah jane.. aku ingin sendiri …" jawab ku dingin kepada jane. Jane adalah teman masa kecilku. Dulunya dia anak yatim piatu. Kami bersekolah di cathedral yang sama. Orang tua angkat jane adalah penganut katolik yang taat. Sering kali jane membawakan buah buahan kepada kami jika perayaan natal tiba. Teringat natal, aku lupa bahwa tahun ini aku akan merayakan natal sendirian tanpa bapa. Dan itu semakin membuat ku sakit. Jane memeluk ku dari belakang dan berbisik,

"ayo kita bermain permainan seru.." aku terkejut karena jane mendadak bertingkah agresif untuk orang seumuran kami.
"Apa-apaan jane.. ini tidak lucu.. kita bukan anak kecil lagi.." aku berusaha menolak tangan jane yang melingkar di pinggang ku.
" aku akan memperlihatkan mu sesuatu.."
" apa maksudmu..?" Tanya ku kembali bingung dengan sikap jane.
"Ikut aku dan kau akan tau.." jawab jane sambil berjalan menunjukan arah. Aku terpaksa mengikutinya walaupun saat ini aku masih dalam keadaan berduka.

Aku tiba di sebuah rumah tua besar yang berdebu. Di sekelilingnya banyak pohon pinus yang tinggi. Terlihat rumah itu sudah lama tidak di tempati. Namun, yang membuat ku bingung adalah mengapa jane membawaku ke tempat mengerikan seperti ini? bahkan sinar matahari pun enggan masuk kedalam nya.

"Apa yang kita lakukan di tempat mengerikan seperti ini jane? Ayo kita kembali.." ucapku sambil menarik tangan jane.
" tidak, ada yang harus aku tunjukan padamu erren.." jawab jane sambil melepaskan pegangan tangan ku.
" apa maksudmu jane..?"
" kau belum tau..?"
"Tau apa..?"
"Tentang siapa kau, dan siapa kita.."
"Sudah cukup! Aku tidak mengerti apa maksudmu.. dan apa maumu..aku ingin kembali ke capel sekarang juga.." jawab ku kesal sambil membalikan tubuhku hendak meninggalkan tempat itu.
" jika kau melangkah selangkah saja..hidup mu akan berakhir.." jawab jane lantang sambil memandang ke arah diriku. Aku membalikkan tubuh ku kembali ke arah jane dan melihat matanya yang tajam menatap ku.

Seketika hawa sunyi di tempat itu berubah. Terdengar suara lolongan anjing hutan yang bersautan. Angin yang tadinya tenang berhembus kencang. Daun-daun berguguran entah kemana. Seketika aku merasa ada yang tidak beres. Tubuhku mulai kedinginan. Jane yang sedari tadi menatap ku tajam hanya berdiri tanpa berucap apa-apa. Sayup sayup aku mendengar bisikan-bisikan aneh. Bisikan-bisikan yang memekakan telinga. Aku menutup kedua telinga ku tapi tetap saja terdengar. Bisikan seolah olah mengatakan, " dia si darah campuran..darah campuran..darah campuran… dia si darah campuran.." dan bisikan yang memekakan itu terus berulang ulang hingga membuat telinga ku sakit dan perih. Darah segar mengalir di kedua telinga ku. Aku tidak habis pikir dengan situasi aneh ini. Sementara jane hanya diam sambil menatap ku tajam. Namun mendadak semua situasi tidak masuk akal itu berhenti sekejap. Seolah ada orang yang menghentikannya.

Jane yang berdiri beberpa meter di depan menghilang dengan cepat. Membuat ku terkejut setengah mati. Aku tau situasi semacam ini bukan situasi biasa. Pertanyaan nya apakah jane itu manusia atau bukan?

Tak butuh beberapa lama, jane muncul dengan cepat dan berdiri beberapa centimeter di depan tubuhku.

"Necromancer……"

*To Be Continue.....

0 Response to "CHAPTER 1 NECROMANCER"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel